Dukungan pemerintah ke industri CG

Discussion in 'General Talk' started by Zedschool.com, Jun 25, 2014.

Dukungan pemerintah ke industri CG, 1 votes
5/5, 1 vote

  1. Zedschool.com masih cupu Staff Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    119
    Trophy Points:
    85
    Location:
    Jekardah
    [​IMG]

    http://www.merdeka.com/politik/jokowi-y ... dunia.html

    Gimana masbro sekalian? Ini baru ngomong aja sih, dan yang bersangkutan kan belum tentu terpilih.

    Beberapa game udah masuk steam, seperti Infectonator dan DreadOut, tapi kalo dibandingin kedua game tersebut masih kelas "Indie"

    Infectonator
    http://store.steampowered.com/app/269310/

    Dreadout
    http://store.steampowered.com/app/269790/

    Untuk animasi, udah ada Entong, Adit Sopo & Jarwo, Didi Tikus. Seengganya beberapa media group udah mulai berani inisiatif.

    Hanya saja kayaknya artist lokal banyak yang prefer atau bermimpi kerja di studio kelas internasional, dibandingin menetap dan mengembangkan IP sendiri.

    Selama ini kendalanya apa ya?
     
  2. zhangku Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    29
    Trophy Points:
    25
    jgn salahkan orgny.. salahkan duitny saja.. hehe piss gan
    semoga industri kreatif lebih maju kedepanny
     
  3. niallsimon Member Moderator

    Joined:
    Jun 25, 2014
    Messages:
    27
    Trophy Points:
    25
    IMO sih karena perkembangan infrastruktur yg lamban dan industry yg kurang bergejolak, mungkin jg krn pelaku industrynya masih sedikit dan kebanyakan jg masih pada kerja di luar
     
  4. Zedschool.com masih cupu Staff Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    119
    Trophy Points:
    85
    Location:
    Jekardah
    Nah itu dia. Industri yang kurang bergejolak apa sih penyebabnya? Padahal talent lokal banyak yang keren kok. Akibatnya malah pada milih kerja diluar, dibandingkan menetap di Indonesia dan ngembangin IP sendiri.
     
  5. zhangku Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    29
    Trophy Points:
    25
    pertama dari bayaranny sudah jelas diluar lebih variatif dan menarik
    kedua, pembajakan hak cipta, byk beredar game, film, music bajakan yg tdk jelas asal usulny ini sangat meresahkan pelaku industri ini
    ketiga, talent, masih muda industri animasi ama game kita di indonesia kalo ng salah baru mulai sekitar taon 90'an banding dgn jepang, amerika yg sudah lebih 4-5 dekade
    keempat, distribusi, msh dikitny ketertarikan pelaku dunia bisnis yg tertarik terutama dlm hal pemasaran utk game dan animasi lokal, selain tv series dan bioskop
    kelima, investor, pelaku bisnis umumny ingin return of value sebesar-besarny dgn resiko yg sekecil-kecilny.. hal ini tdk begitu jelas terlihat utk industri game dan animasi yg sulit diperkirakan
    keenam, government, msh dikitny bantuan dan perhatian pemerintah khususny dlm bidang animasi dan game utk studio2 menengah kebawah
    ketujuh, daya ungkit, indonesia kaya budaya dan seni tp tdk adany talent lokal yg mampu menyelaraskan ide dan cerita kedalam sebuah perpaduan yg bisa di tonton utk segala lapisan
    kedelapan, fanatisme, msh byk yg doyan serial animasi bergenre tertentu, hal ini wajar karena originalitas msh berasal dari negeri asing yg sudah lama menjajah dunia animasi
    kesembilan, research and development, msh minimny komunitas kreatif khususny animasi dan game yg bertujuan utk mempelajari lebih lanjut tentang teknik produksi
    kesepuluh, do your own assignment, biasany tentang mental kita sendiri yg kurang pantas dibicarakan yg hanya bisa berandai2 dan tdk gigih berusaha
    dan msh byk lagi kriteria lain tentang hal ini yg bisa ditingkatkan, sy rasa semuany saling mempengaruhi jika suatu saat kita punya trend setter yg bagus yg bisa merombak cara berpikir
    utk berkreasi dan berbisnis di industri kita ini mgkn bisa merubah struktur yg selama ini sudah mengakar dan merusak salah satu sumber devisa bagi negara ini
    :)
     
  6. Zedschool.com masih cupu Staff Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    119
    Trophy Points:
    85
    Location:
    Jekardah
    Emang banyak artist lokal yang milih kerja di luar negeri. Tapi kalo ngeliat realitanya, mereka engga pernah menjabat jabatan yang lebih tinggi dibandingkan sebagai artist. Dalam hal ini mungkin skill artistic mereka jadi kepolish, tapi kemampuan memimpin team dan khususnya memasarkan produk itu jadi ga terasah. Bayaran jelas memang lebih tinggi, tapi long runnya bakal ngerusak artist itu sendiri.

    Yang gue liatin, kalo company luar masih dilihat sebagai prestige luar biasa, apalagi kalo udah nyolek-nyolek proyek blockbuster atau AAA games. Realita pahitnya, ketika artist itu balik ke dalam negeri, dan mungkin ingin memulai sendiri, dia ga punya bekal apa-apa selain portfolionya. Padahal bekal skill pemasaran dan kepemimpinan itu penting banget.

    Belakangan digital distribution udah merebak, dan masalah software terutama mobile banyak yang menggunakan sistem in-app purchase, yang mana softwarenya sendiri dikasih gratis. Dan kalo liat di appstore, baik iTunes maupun Playstore, cara ini lumayan efektif dan belakangan mayoritas app udah mengadopsi sistem ini.

    Dreadout salah satu contohnya yang pake Steam digital distribution. Persaingan sebenernya ga seberat itu, walopun untuk dapet greenlight bukan sesuatu yang gampang. Kalo liat submission di greenlight banyak yang amburadul, kemungkinan personal/student project dan sekarang banyak yang ngajuin early access, malah pada waktu stage alpha juga udah digreenlit.

    Bisa jadi. Kurang pengalaman istilahnya.

    Gimana dengan self-publishing seperti iTunes dan Playstore atau kalo misalnya di platform buku ada Smashwords dan Scribd?

    Kalo gue bilang kalah saing sama sinetron yang ga terkendali. Kalo sinetron dengan modal minim dan waktu produksi yang singkat bisa ngeraup iklan primetime yang banyak, rumah produksi dikit yang mau ambil resiko lebih dari itu.

    Nah, kan udah disebut di OP. Walo baru disebut doang sih :mrgreen:

    "Tidak ada" kurang tepat menurut gue. "Mau ato engga" lebih tepat sepertinya.

    Agak ga relevan, tapi bukannya ga mungkin.

    Status quo itu dimana-mana pasti ada dan sulit digeser. Kalo situ sempet mainan friendster (pelopor social network terutama di indonesia), dan sekarang ngeliat gimana nasib friendster setelah facebook muncul, bukannya ga mungkin.

    Kalo produk asia ngegeser produk barat, mungkin Line messenger kali ya? Kebanyakan orang di contact gue sekarang pake Line.

    Teknik produksi secara garis besar udah kayaknya. Masalahnya lebih ke skill pemasaran dan kepemimpinan.

    Nah...

    setuju ni...
     
  7. zhangku Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    29
    Trophy Points:
    25
    kalo artist yg mendunia memang byk ada jg yg mengerjakan core project dlm sebuah film, comic dsb tp mgkn emang benar artist yg indo yg bersaing diluar itu memiliki byk kendala terutama yg berada di negara barat, masalah seperti budaya,
    bahasa, cara berpikir dan jg cara kerja masing2 yg berbeda, bila org indo mengutamakan visi dan misi dlm melakukan perubahan utk negara maju mereka sdh mepelopori perubahan tsb dan mereka punya sektor2 yg kita belum mencapainy
    dan jg persaingan disana tentunya tdk seringan kita, disana bertebaran org2 dari seluruh dunia yg mempunyai mimpi yg sama dan setiap saat mereka harus merelakan posisiny.
    kedua, mereka jg py RnD yg cukup maju utk membuat sesuatu yg baru beda dgn kita yg masih mengikuti sistem yg ada seperti kita msh bersumber dari crack dan source-code yg dibuang oleh mereka, kita tdk berani melakukan itu selain memakan biaya yg tdk sedikit jg memerlukan org2 yg benar2 mendalami dlm IT (bukanny IT kita tdk maju, tp kita blm mempunyai sistem utk membenahi aturan yg menghidupi kesejahteraan ilmuwan yg punya pemikiran diatas rata2) selain ini resource mereka jg tersebar dan dimudahkan oleh pusat iptek yg sudah dimodali oleh swasta dan pemerintah dlm skala besar, contohny jika sy bisa membuat pesawat maka sy akan ke amerika atau ke jerman bukan tinggal diindonesia karena tdk ada pekerjaan disini.
    ketiga, org2 indo yg bekerja diluar itu ya umumny benar2 bekerja bukan terlatih utk memimpin karena umumny mereka kalo bukan bekerja utk suatu divisi ya berada pada suatu team dlm skala menengah, jd benar2 prospek mereka yaitu mengerjakan tugas mereka sesuai dgn jobdesk yg ditentukan, jika performa bagus maka akan ada kenaikan jabatan tp memang kalo dikatakan utk memimpin biasa butuh pengalaman diatas 12-15 tahun utk menjadi supervisor ini sangat berbeda dgn kita yg hanya mengandalkan skill bukan objekvitas dari pekerjaan itu dari segi pengalaman.
    keempat, budget biaya yg luar biasa dgn tanggung jawab yg berat hanya bisa dilakukan org2 yg memang punya ketahanan mental dan prestasi yg luar biasa baru bisa melakukan instruksi kepada org2 dibawahny yg juga org2 bertalenta super beda dgn kita yg umumny tdk berpikir jauh selama project ini menghasilkan maka jalan jika tdk maka bubar, faktor resiko dikita lebih kecil dan kita tdk terlalu pusing mikirin performa yg penting kalo punya biaya maka suatu project akan memiliki nilai.
    kelima, benar kalo dari distribusi kita bisa nebeng steam, itunes, appstore dll ini emang keuntungan kita yg bisa produksi dgn kapasitas kecil dgn biaya murah cuma daya ungkit kita ini belum ada dan nama Indonesia belum sebagus negara tetangga ataupun bisa melakukan perubahan utk mementaskan kita diajang2 internasional dan byk dibicarakan ( sdh mulai tp msh sangat baru) kita msh meretas dan msh memikirkan visi misi kedepanny seperti apa sementara negara maju memegang kendali dan menentukan jalannya roda distribusi dan juga teknologi
     
  8. Zedschool.com masih cupu Staff Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    119
    Trophy Points:
    85
    Location:
    Jekardah
    Hiahahaha bener sih gue etuju banget. Mungkin ini dari segi pasarnya kali ya?

    Tapi kalo liat di luar negeri kontaktor militer itu bukan cuma satu dua aja kayaknya? Dengan client yang biasanya paling banyak diincer ya pemerintah.

    Ntahlah ini cuma asumsi dan nebak-nebak aja. Bukan bidang gue.

    Kenyataannya seringkali pemimpin yang dipilih dalam satu company itu itu punya pengalaman kurang dari 10-15 tahun. Dan kalo diluar seperti yang situ bilang, persaingan sangat berat, sehingga kalo bisa naik jadi team lead aja udah luar biasa banget. Struktur kepemimpinan di suatu company yang udah solid biasanya cuma bisa berubah kalo tingkat atas ga bisa meneruskan jabatannya.

    Dilema pilihannya biasanya ada dua : tetep di company lama dengan nilai prestisenya, atau masuk company yang lebih kecil namun naik pangkat.

    Nah ini setuju banget, ngumpulin dan memaintain team yang satu visi dan mau bergerak itu susah bro, sangat-sangat susah amat sekali. Bukan engga mungkin, tapi sangat sulit.

    Ga gitu tau soal apps sih, tapi baru nyadar belakangan beberapa app yang masuk top downloaded itu punya studio lokal. Sayang gue ga pernah nyobain secara langsung.

    Tapi seengganya dengan appstore dan steam masalah pembajakan bisa dikurangi. Walau masalah piracy belum bisa dicoret sepenuhnya. Udah nyobain jailbreak iOS device gue, hasilnya malah tambah ga nyaman dan ribet kalo mau install app. So gue belakangan milih beli langsung di appstore. Sama juga kayak download apk. Dan herannya orang Indonesia lebih milih bersusah payah ngerusah device mereka dibanding ngeluarin duit di kisaran 10-60 ribu per apps.

    Kalo mau liat realitanya, piracy di luar sama parahnya kayak di Indonesia, DRM yang diimplement game-game AAA itu bukan buat mencegah piracy secara total, tapi buat mengamankan penjualan pas launch date. Hasilnya malah bakal merugikan pembeli legit.

    Beda dengan steam sekarang. It's like reverse piracy. Kalo piracy : you play games you don't buy. Kalo steam you buy games you don't play :mrgreen:
     
  9. zhangku Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    29
    Trophy Points:
    25
    msh byk game yg tak kusentuh akibat summer sale.. lol
     
  10. Abdurrahman Al Hanif Member

    Joined:
    Dec 3, 2014
    Messages:
    26
    Trophy Points:
    25
    Gender:
    Male
    Menurut sy knp perkembangan industri CG di Indo lamban krn:
    1. Kurangnya pengetahuan masyarakat masalah CG sendiri.
    2. Dukungan yang kurang dari berbagai pihak. Artinya, banyak masyarakat yang masih ngira kalo industri CG ini kaya orang main2, sehingga ada ortu yang tau anaknya pengen belajar CG tp ga dibolehin krn dikiranya cuman main game aja urusannya. Padahal klo bisa dikembangin sih bisa aja anaknya jadi jutawan dlm kurun waktu singkat krn CG itu. :lol guy:
    3. Ketika ada beberapa talenta CG indie yang greget pengen ngembangin, mereka hanya bisa fokus sebentar karena banyak kegiatan lain yang menurut lingkungan mereka lebih berguna drpd sekedar "main komputer".
    4. Banyak dari orang tua (lagi-lagi ortu) yang masih kolot kalo beli PC nanti cuman buat ngegame, Internetan, main2 yang ngga jelas yang banyak mudhorotnya ketimbang manfaatnya.
    Nah, langkah yg bisa diambil buat early action sih mungkin ngebanyakin forum2 seperti ini dan sering2 bikin kontest yang wow serta publikasi/ campaign yang bagus sehingga ky para orang tua tau tujuan sebenernya apa sih yang anak mereka lakuin dgn CG. Pernah lihat event di kreavi.com? Mereka menyajikan tiap event dengan apik dan unik. Dalam beberapa bulan aja udah banyak yang aware. Ada lagi, HelloFest, dll dah. Bingung mau nyebutinnya jg.

    Kekompakan sesama kawula CG juga harus ditingkatkan supaya lebih mudah menyamakan suara untuk aksi. hehe.

    Maaf agan2 sekalian, komen saya terlalu subjektif atau enggak yah hehe. Mohon maaf klo ada kata2 yang nyinggung. :p
     
  11. Zedschool.com masih cupu Staff Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    119
    Trophy Points:
    85
    Location:
    Jekardah
    1. CG memang bukan interest yang luas. Tapi biasanya kalo udah nyentuh game, mereka interest ke CG. Ini khususnya kalangan anak-anak dan remaja. Problemnya yang gue lihat adalah, orang lebih milih involve sama project besar dan gabung sama company yang udah settled dibandingkan jadi interpreneur dan ngembangin IP sendiri.
    2. Gue setuju, sama kayak art in general. Padahal industri CG ini udah termasuk multi-million dollar industry.
    3. Resikonya terlalu besar soalnya. Misalnya game development yang makan tahunan buat ngembangin, ketika launch itu ga langsung menghasilkan uang. Animasi juga ga beda jauh. Tapi beberapa samplenya yang berhasil udah ada kan dari lokal (misalnya KukuRockYou, DreadOut atau Infectonator)
    4. Hehehe sama tuh gan. Tapi ya tetep ga bisa lama-lama nyalahin ortu. Mindset orang tua mau anaknya aman. Mungkin juga ga bisa terlalu andelin pemerintah. Harus dimulai sendiri dan jadi pelopornya.
     
  12. arifcreations Super Moderator Moderator

    Joined:
    Nov 28, 2014
    Messages:
    47
    Trophy Points:
    45
    dukungan pemerintah datang kalau semakin jadi kebutuhan terhadap industry ini ( baik yg berperan sbg konsumen atau yang menjadikannya sebagai mata pencaharian utama) udah mayan banyak. ( saya ga bilang tinggi rendah nominalnya y) .
    waktu dulu saya masih remaja, yang namanya festival gitu , masih dalam ukuran sangat kecil,
    minimum to no cosplay. padahal itu festival paling major di jakarta., jadi saya bela2 in bolos untuk datang ke jakarta.
    kebanyakan di isi comic2 indie ( yang masih belum matang spt sekarang)

    so , its ok , kita masih in-progress . and actually making progress :) .
    soal CG lokal dengan IP atau produk lokal , itu ga bakal bisa berkembang tanpa perkembangan media bertemakan fiksi yang lainnya. CG di dunia entertainment itu mahal dan secara praktis tidak bisa berdiri sendiri tanpa subject matter alias IP.
    menurut saya media fiksi yang cukup "murah" untuk dilakukan grup atau perseorangan kecil adalah komik dan literatur ( novel , etc) . bukan berarti semua CG harus diangkat dari karya2 tsb, tapi hanya dengan bersamanya minat masyarakat terhadap media berunsur fiksi modern tsb imajinasi mereka akan berkembang, dan minat mereka terhadap visual yang cantik dan high-end ke CG akan jauh lebih banyak.

    bagi saya liat status FB bertebaran orang2 pada addicted beli game di Steam, itu udah miracle, dulu ga kebayang sampe apresiasi dukungan komunitas sebagian gamer terhadap industry ini sampe begitu.
     
  13. Zedschool.com masih cupu Staff Member

    Joined:
    Jun 24, 2014
    Messages:
    119
    Trophy Points:
    85
    Location:
    Jekardah


    Sayang di indo banyaknya milih jadi outsourcing studio instead of developing our own IP.

    Tapi beberapa kayak misalnya Gameloft sendiri, ngambil license Ubisoft terus bikin spin-off mobile versionnya mereka, sampe mereka bisa berdiri sendiri pake IP sendiri sekarang ini kan? Gue inget banget jaman Nokia gitu banyak game Java punya Gameloft, dari Assasins Creed sampe Splinter Cell, terus kalo ga salah Call of Duty juga.

    Sekarang IP sendiri, kek Modern Combat, Hero of Sparta, Wild Blood sama Gangstar ato game favorit gue, Asphalt. Yep, gue ngikutin banget Gameloft.

    Keknya ini bisa dicontoh juga sih. "Nebeng" nama besar dulu terus kemudian kalo udah bisa mandiri baru develop IP sendiri. Outsourcing juga bisa sih menurut gue, setelah dapet nama-nama besar, barulah mulai develop IP.

    Tapi kalo tahap bikin IP sendiri ga pernah dijalankan, selamanya bakal jadi outsourcing studio.

    But ini pendapat pribadi ajah... *belon* punya IP sendiri soalnya, apalagi studio yang bikin AAA hehe :sensor:

    Bener nih gan, kayak Caravan Studio misalnya. Kemaren bareng Enspire bikin short movie.

    Brace yourself! Winter sale is coming!:lol:
     

Share This Page